apa itu islam

AKIDAH TAUHID DAN SEJARAH PENYIMPANGAN MANUSIA DARINYA

AKIDAH TAUHID DAN SEJARAH PENYIMPANGAN MANUSIA DARINYA

Lilis Ikhlasiyah, Lc

Akidah tauhid merupakan agama yang lurus ini, yang merupakan agama fithrah dimana Allah I menciptakan manusia seluruhnya diatas fithrah ini, agama ini ada bersama dengan adanya manusia dimuka bumi, sebagaimana hal ini diisyaratkan oleh Al Qur’an didalam firmannya :

{ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ }

Artinya :” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” ( QS Ar Rum :30 )

Maka Nabi Adam r yang merupakan manusia pertama diciptakan oleh Allah I diatas fithrah yaitu diatas aqidah yang lurus dan selamat, lalu Allah I mengajarinya segala macam ilmu yang belum pernah diketahuinya baik yang berkaitan dengan agama maupun urusan dunia, maka beliau r adalah menusia pertama yang mentauhidkan Allah I  dengan tauhid yang murni dengan meyakini apapun yang wajib untuk diyakini bagi Allah I berupa pengagungan, ketaatan, harapan, rasa takut dan sebagainya, dan Allah I telah memilihnya sebagai manusia pertama dan Nabi-Nya yang pertama serta memberikannya kemuliaan dengan memerintahkan para Malaikat seluruhnya untuk sujud kepadanya sebagai bentuk pemuliaan untuknya, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Allah I di dalam firman-Nya :

{ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ }

Artinya :” Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” ( QS Ali Imran : 33 )

Dan firman-Nya :

{ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ َ }

Artinya :” Dan (ingatlah) ketika Kami ( Allah I ) berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” ( QS Al Baqarah : 34 )

Aqidah tauhid ini merupakan akidah yang sudah disepakati dan diakui oleh setiap anak Adam dan Allah I pun telah mengikat perjanjian dengan mereka agar mengakui dan menyaksikan bahwa Allah I adalah Rabb ( pencipta, pemilik dan pengatur urusan ) mereka, hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah I didalam firman-Nya :

 { وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ * أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ }

Artinya :” Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah ),  atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” ( QS Al P’raf : 172-173)

Dari keterangan ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan diatas fitrah dan tumbuh diatasnya, mereka akan terus seperti itu selama tidak ada yang menyimpangkan mereka darinya, sebagaimana pula disebutkan didalam hadits qudsi, Alllah I berfirman :

” … وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم ، وأنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم و حرّمت عليهم ما أحللت لهم ، وأمرتهم أن يشركوا بي مالم أنزل به سلطاناً ..  “

Artinya :” …Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif ( diatas fitrah), lalu datang kepada mereka para syaitan dan menyimpangkanmereka darai agama mereka dan mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan serta memerintahkan mereka agar berbuat syirik kepada-Ku sesuatu yang tidak pernah Aku turunkan perintahnya. ( Riwayat Imam Muslim dalam shahihnya no. 2865 )

Hal inipun senada dengan apa yang dijelaskan oleh Nabi-Nya r , dimana beliau bersabda :

ما من مولود إلا يولد على الفطرة ، فأبواه يُهّودانه ، أو يُنصّرانه ، أو يُمجّسانه

Artinya:” Tidak seorang bayipun melainkan dilaqhirkan diatas fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang yahudi atau nashrani atau majusi.”

( HR Al Bukhari dengan Fathul Bari 3/219 dan Muslim no. 2658 )

Dari keterangan-keteranagan diatas kita mengetahui bahwa akidah tauhid dan keshalihan merupakan dasar dimana Nabi Adam r dan keturunannya berada diatasnya, mereka berada diatas tauhid yang murni, sedangkan kesyirikan dan kesesatan yang  merupakan perkara-perkara baru yang muncul kemudian, tidak terjadi kecuali setelah Nabi Adam r, beberapa kurun setelahnya, sebagaimana disebutkan oleh Abdullah ibn Abbas y : “ Jarak masa antara Nabi Adam r dan Nabi Nuh r adalah sepuluh kurun semuanya berada diatas syariat yang benar lalu mereka berselisih maka Allah I pun mengutus para Nabi-Nya sebagai pemberi kabar gembira ( bagi yang taat ) dan pemberi  ancaman ( bagi yang menentang dan menolak ).”

Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Allah I didalam firman-Nya:

{ كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ }

Artinya :” Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan,” ( QS Al Baqarah : 213 )

Yaitu mereka berada diatas kebenaran dan petunjuk, satu kesatuan umat diatas satu agama lalu mereka berselisih setelah itu. ( lihat tafsir At Thabari 2/ 194-195 dan tafsir ibnu katsir 1/ 218)

DAMPAK  PENYIMPANGAN DARI AKIDAH YANG LURUS

Penyimpangan yang terjadi dari akidah yang lurus merupakan kehancuran dan kehinaan, menjadikan setiap pribadi ataupun masyarakat terjerumus kedalamnya.

Pribadi manusia yang tidak didasari oleh akidah yang lurus akan menjadi mangsa empuk bagi setiap pemahaman yang menyimpang sebab dia tidak lagi dapat menggunakan fitrah atau akalnya untuk menimbang danmencerna setiap pemahaman yang sampai kepadanya, bahkan kadang menutup jalan berfikirnya sehingga mudah terseret arus penyimpangan atau bahkan lebih condong kepada penolakan sehingga hidupnya selalu dipenuhi oleh keraguan dan menilai bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah pada dunia yang diperolehnya sehingga bila dia tidak memperoleh nilai dari nilai-nilai dunia maka diapun merasa sempit hidupnya dan berusaha untuk mencari solusi terbaik bahkan tidak segan dengan bunuh diri !

Demikian pula dengan suatu masyarakat yang kehidupan bermasyarakat mereka tidak didasari dengan akidah yang lurus maka akan menjadi masyarakat rimba, hukum yang berlaku adalah hukum rimba, siapa kuat dialah yang berkuasa.

Bahkan kalaupun suatu masyarakat dinilai maju dari sisi tekhnologi dan ilmu pengetahuan namun bila lepas dari dasar akidah yang lurus maka apa yang mereka miliki menghantarkan mereka kepada kehancuran dan kebinasaan – sebagaimana dapat disaksikan pada masyarakat- masyarakat non muslim –  sebab kemajuan tekhnologi dan ilmu pengetahuan harus diarahkan oleh akidah yang lurus.

Allah I berfirman :

 وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى *  قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا  *  قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Artinya :” Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta, Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” ( QS Thaha : 124-126 )

Maka kekuatan teknologi dan ilmu pengetahuan harus didukung oelh kuatnya akidah bila tidak maka akan menjadi sarana yang dapat menghancurkan diri sendiri.

 

SEBAB- SEBAB TERJADINYA PENYIMPANGAN DARI AKIDAH YANG LURUS

Terjadinya penyimpangan dari akidah yang lurus tentu ada penyebabnya, maka setiap muslim hendaknya mengetahui penyebab-penyebab tersebut agar tidak terjerumus kedalamnya dan agar dapat menghindarkan diri darinya, diantara sebab-sebab tersebut adalah :

  1. Kebodohan terhadap akidah yang lurus karena tidak mau mempelajari dan mengajarkannya atau karen kurangnya perhatian terhadapnya, akibatnya tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal akidah yang lurus dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya, akibatnya mereka meyakini yang hak sebagai sesuatu yg bathil dan yang bathil dianggap sebagai yang hak, hal itu sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar y:

إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية

Artinya: “Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.”

  1. Fanatik kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya walaupun hal itu sesuatu yang batil, dan mencampakkan apa yg menyalahinya walaupun hal itu suatu kebenaran, hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah I:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

 شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Artinya :” Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.( QS Al Baqarah : 170 )

  1. Taklid buta dalam mengambil pendapat manusia dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya, hal itu sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. mereka bertaklid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam yang sesat sehingga mereka juga sesat jauh dari akidah yg lurus.
  2. Berlebihan dalam mencintai para wali dan orang-orang saleh serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya atau terlalu mengagungkannya sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Isemata baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan, dan menjadikan mereka sebagai perantara ( wasilah ) antara Allah I dengan makhluk-Nya sehingga berujung pada peribadahan kepada mereka dengan melakukan pendekatan diri kepada mereka dengan menyembelih binatang-binatang sembelihan di kuburan mereka atau bernadzar atau berdoa di kuburan mereka dan ibadah-ibadah lainnya, sebagaimana terjadi pada kaum Nabi Nuh r , sebagaimana hal tersebut Allah I hikayatkan didalam firmannya :

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Artinya :” Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” ( QS Nuh : 23 )

Sebagaimana pula banyak terjadi pada orang-orang yang menghamba dan mengagungkan kuburan.

  1. Lalai dari mentadaburi ayat-ayat Allah Iyang terhampar di alam semesta ini dan ayat-ayat Allah I yang tertuang didalam kitab-Nya , di samping itu pula terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan sehingga mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan kemampuan manusia semata, sebagaimana dikatakan oleh Qarun  pada masa lalu, Allah I menyebutkan hal itu didalam firman-Nya :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

Artinya: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku” ( QS Al Qashas : 78 )

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Allah I  yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya, Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam semesta serta memfungsikannya demi kepentingan manusia, sebagaimana difirman oleh Allah I :

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ

 قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

Artinya :” Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?” ( QS Al P’raf : 185 )

 اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا

 لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ #

 وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

 Artinya :” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai, Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS Ibrahim : 32-33 )

  1. Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar {menurut Islam}. Padahal   Rasulullah r telah bersabda :

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Artinya :”Tidaklah seorang bayi dilahirkan melainkan dilahirkan diatas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi atau Nashrani atau Majuzi . “  ( Muttafaqun Alaih )

Jadi orang tua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.

  1. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya.

Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yg cukup terhadap pendidikan agama Islam bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.

Sedangkan media informasi baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yg bersifat materi dan hiburan semata, tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan akidah serta menangkis aliran-aliran sesat, dari sini muncullah generasi yang bertangan hampa tanpa senjata yang tidak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang memiliki persenjataannya lengkap.

Cara-Cara Menanggulangi Penyimpangan

  1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunah Rasulullah r, untuk mengambil akidah yang lurus sebagaimana para salaf saleh mengambil akidahnya dari keduanya.

Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yg telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji akidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai karena siapa yang tidak mengenal keburukan ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.

  1. Memberi perhatian pada pengajaran pemahaman akidah yang lurusakidah salaf di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.
  2. Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yg bersih sebagai materi pelajaran sedangkan kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.
  3. Menyebar para dai yang meluruskan akidah umat Islam dengan mengajarkan akidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh akidah batil.

Demikian sekilas tentang sejarah penyimpangan dan sebab- sebabnya yang terjadi pada akhir zaman ini dan solusinya.

وصاى الله على محمد و آله و صحبه وسلم و الحمد لله رب العالمين

 

Daftar pustaka :

  1. Al Qur’an Al Karim dan terjemahnya
  2. Mabahits fil Aqidah oleh Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql
  3. Muqarrar At Tauhid lis shafig Awwal oleh Fadilatus Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan
  4. Al Irsyad Ila Shahihil I’tiqad oleh Fadilatus Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *